Kamis, 01 April 2010

Kesenian warisan ku...

Budaya dan kebudayaan sangat amat erat dengan kesenian, kesenian dari suatu daerah akan menjadi ciri khas dan kebudayaan tempat tersebut. Memang tidak semua kesenian menjadi kebudayaan dan tidak semua kebudayaan juga menjadi kesenian. Banyak orang mengatakan sesuatu yang dilakukannya sebagai seni, karena seni identik dengan keindahan. Bila sesuatu dapat dinikmati dari nilai estetikanya, juga moral dan sopan santun. Jika sesuatu yang kita lakukan berlawanan dengan itu, maka pada umumnya pada umumnya tidak diterima sebagai seni, seni yng merugikan orang lain tidak pernah diakui sebagai seni.

Seni yang dapat ditampilkan atau dilakukan adalah kesenian, di dalam kesenian selalu ada seni-seni yang telah diakui dan dikenal bersama. Seperti budaya, kesenian dikenal banyak orang dan diterima keberadaannya. Walaupun seni sendiri diakui mencakup banyak aspek dalam kehidupan ini. Bahkan dalam keyakinan beragama pun dikenal seni, contohnya ada perlombaan kesenian membaca kitab suci atau yang lainnya. Sudah terbuktikan bahwa seni sangat tersebar di hampir semua lapisan kehidupan, dari sisi religius, komersil, hiburan, keterampilan, dan sebagainya mengandung nilai-nilai seni yang cukup kuat.

Dalam kehidupan kita sehari - hari kita juga melakukan kesenian, bahasa juga sebuah seni yang menjadi budaya dari warisan leluhur secara turun-menurun. Bahasa memiliki keindahan ucapan, rangkaian dan pemilihan kata - kata. Bahasa sesungguhnya tidak untuk menyakiti orang lain, bahasa memiliki sopan santun yang dapat memberi kebahagiaan bagi pendengarnya. Setiap hari kita melakukan kesenian ini, walaupun bahasa dikategorikan sebagai sastra tetapi sastra itu juga merupakan seni yang juga menjadi kesenian suatu daerah. Bukti dari keindahan bahasa adalah terpajangnya bahasa - bahasa indah pada tempat - tempat tertentu.

Degan berbahasa yang baik kita memiliki seni berucap yang baik pula. Kita harus menjaga tata bahasa kita agar dapat memberi warna kehidupan lewat seni dan mewariskan kesenian yang indah dan bermoral..

Sebagai manusia kita tentu saja memiliki rasa egois, namun kita sering kali mengatakan bahwa kita tidak mementingkan diri sendiri. Kita mungkin memang berniat mementingkan orang lain dan tidak selalu memikirkan diri sendiri namun dalam diri kita tetap terselip kepentingan kita di pikiran dan apa yang kita lakukan. Bila tidak sungguh-sungguh disadari maka kita tidak akan pernah tahu seberapa egoisnya diri kita. Alangkah lebih baik untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain di saat kita memiliki kebutuhan dan keinginan, contohnya saja dalam hubungan dua manusia yang dikatakan didasari cinta. Pada saat mengatakan mencintai lebih dari yang lain, sesungguhnya kita belum tentu benar-benar seperti itu. Kita mencintainya namun belum tentu lebih dari rasa cinta kita terhadap diri sendiri. Saat orang lain kurang memperhatikan kita, akan sangat mungkin kita akan mengurangi rasa perhatian kita.

Menurut saya mencintai diri sendiri itu bukan keegoisan, bukan keinginan pemenuhan nafsu, bukan kemelekatan yang tidak bisa diatasi. Bentuk dari cinta terhadap diri sendiri adalah rasa bersyukur atas hidup ini, rasa bersyukur atas badan ini, jiwa raga yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Menjaga, memelihara dan melestarikan kehidupan dan kesehatan kita adalah pelaksanaan yang paling besar dari rasa cinta terhadap diri sendiri. Jika kita mencintai diri kita sepenuh hati kita, kita tidak bisa membawa tubuh kita ini ke dalam sebuah kenikmatan yang menyakitkan. Kita tidak akan mau membawa diri kita kedalam kebodohan. Sebagai seseorang yang mencintai diri sendiri, tidak akan membawa tubuhnya kedalam penyakit seperti narkoba, minuman keras dan semua makanan dan minuman yang memabukkan dan adiktif. Karena kita tahu benda-benda konsumsi seperti itu tidak pernah membantu diri kita(jiwa dan raga) juga kehidupan kita yang berguna dan indah. Menjaga kesehatan begitu penting, jika tubuh kita sudah tidak bisa digunakan maka apalah arti diri kita, dan kita telah menyia-nyiakan apa yang ada pada diri kita sendiri. Sebaliknya dalam keadaan sehat kita bisa melakukan banyak hal penting yang berguna untuk diri ini seperti olahraga dan bersosialisasi, kita juga dapat memberi rasa cinta kepada orang lain.

Rasa cinta terhadap diri sendiri memang dikhususkan memperhatikan diri kita sendiri, namun kekurangan yang ada dalam diri kita tidak perlu kita sesali. Mensyukuri diri kita akan membuat kita dapat bersahabat baik dengan diri kita, membuat kita lebih semangat dan teguh dalam menjalani hidup kita. Namun kekurangan yang terjadi adalah ujian untuk kita apakah kita pantas untuk naik kelas, tinggal bagaimana kita dapat mengatasi dan melewati ujian-ujian yang datang dalam kehidupan kita. Jika tidak benar-benar mencintai diri kita sendiri, maka kita tidak akan pernah peduli dengan semua itu. Mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri juga termasuk mencintai diri sendiri. Peduli terhadap kekurangan kita maka kita harus membagun kemampuan yang lebih baik, ini adalah salah satu bentuk konkrit dalam mencintai diri sendiri. Sebagai pemegang kekuasaan dalam diri kita, maka kita harus melakukan hal positif dan berguna. Dengan mencintai diri sendiri seperti ini maka kita dapat mencintai orang lain dengan baik dan memberikan manfaat, sesungguhnya mencintai alam dan orang lain juga adalah bentuk dari mencintai diri sendiri.

Lakukanlah hal yang bermanfaat untuk diri sendiri, bangunlah kemampuan untuk diri sendiri, orang lain dan kelangsungan kehidupan.

Senin, 29 Maret 2010

Kekhawatirannya...


Seringnya kita sebagai anak hanya dapat menuntut banyak pada orang tua, meminta uang lagi dan lagi. Atau kita merasa untuk tidak memberatkan orang tua, dan kita berusaha untuk mencari uang sendiri untuk kita sendiri. Namun sesungguhnya saya yakin orang tua kita berusaha mencari uang seluruhnya untuk kebahagiaan anak-anaknya dan menunaikan tugasnya di dalam kehidupan ini. Hanya saja ada proses yang harus kita lewati, tidak dengan begitu saja orang tua memberikan anaknya uang. Orang tua kita hanya tenang saat memberikan uang, maka ia akan memberi kita uang apabila ia yakin terhadap kita dan pada saat yang tepat. Sebetulnya ini sangat berpengaruh dengan tabiat kita, karena orang tua sangat mengerti anaknya. Orang tua kita akan sangat khawatir bila kita hanya menjadi seorang anak yang selalu meminta uang dan menghamburkannya tanpa berpikir dengan baik dan sehat. Tak ada usaha dan menggunakan uang tanpa hati nurani menjadi kekhawatiran terbesar yang mungkin dimiliki orang tua kita.

Kamis, 18 Maret 2010

Manusia, bersifat dan berbudaya...

Manusia pada dasarnya memiliki sifat yang baik dan tulus, namun karena tekanan hidup, perubahan zaman yang menggerus nilai-nilai tradisional yang telah dipegang teguh, juga ketidaksadaran akan diri masing-masing membuat pergeseran besar dalam hidup manusia yang membiarkan sifat buruk mereka menguasai diri manusia. Sifat-sifat dasar sudah tidak diperhatikan lagi, hanya mementingkan bagaimana diri ini nyaman dalam bertindak dan dapat menarik perhatian orang banyak walaupun itu terkadang bukan menarik kebaikan dari orang lain. Setiap manusia memiliki sifat yang khas dan secara umum memiliki beberapa kesamaan, jika saja mereka dapat mengenal diri sendiri dengan baik, maka potensi kebaikan dan nilai yang lama menghilang akan kembali menjadi keteguhan di hati masing-masing manusia.

Dengan kepribadian yang baik dan disadari oleh diri sendiri, maka kehidupan manusia akan menjadi lebih baik. Bahkan dari kebudayaan yang telah ada, yaitu penambahan sedikit pembaruan dari kebudayaan yang telah jarang dilihat oleh kita. Seperti pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, kepribadian diri, manusia dan kebudayaan. Kebudayaan yang baik akan lahir dari manusia yang memiliki kepribadian yang baik pula, dan kebudayaan yang saya contohkan memang hanya kebiasaan kecil dalam keluarga. Kebudayaan kecil itu yang sesungguhnya akan berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, bangsa, kegara dan kehidupan secara menyeluruh. Kita bisa memulai ini dari diri kita, setidaknya kita dapat memikirkan yang baik untuk kehidupan kedepan. Walaupun keluarga saya tidak memiliki kebudayaan sebaik itu, namun saya tetap berusaha melakukan lebih baik agar saya terbiasa berpikir lebih baik dan suatu saat memiliki kebudayaan yang baik pada keluarga yang semoga saya miliki nanti.












Senin, 08 Maret 2010

Kelebihan para Guru

Tulisan ini adalah salinan dari Thread saya di forum kaskus, yang semoga aja dapat memberikan pembaca pemikiran yang lebih baik..

Agan2 ane mau share aja ni, semoga agan2 suka bacanya...

Waktu masih sekolah ada yang pernah di ajak makan, jalan-jalan ato nginep di rumah guru? sayangnya ane nggk ngerasain, padahal kenangan dari guru-guru kita juga nggk mungkin kita lupa. Guru-guru ane sih kebanyakan bae2 gan, dan bnyk yg bs gw kenang dari mereka. Tapi mungkin di daerah yang keadaanya lebih sulit, peran guru lebih banyak lagi daripada di daerah ane tinggal. Mungkin ada diantara kita yang yatim piatu, terus di ajak tinggal oleh sang guru. Bayangin kalo guru-guru kita punya kesejahteraan, gimana berkualitas pendidikan yang bagus banget di dapet tunas2 bangsa ini, guru-guru bisa fokus pada mengajar dan memberikan nilai-nilai moral yang baik. Sang guru bisa ngajak kita makan atau belajar sambil jalan2. Pasti berkesan bgt buat murid2nya dan pasti belajar akan lebih nyaman. Tapi ada satu lagi, rasa kemanusiaan sang guru yang penting juga. Walaupun ane yakin kalo orang2 yang mau jadi guru itu punya rasa kemanusiaan yang lebih dari orang2 lain.

Nah gan, kalo ada di antara agan2 yang nanti kerja di pemerintahan, tolong kita perhatiin nasib guru-guru...
Setidaknya agar guru-guru kita bisa mengajarkan gimana caranya berbagi tanpa pamrih, dan para murid bisa mencontoh yang baik...

silahkan di buka linknya untuk melihat Thread di forum Kaskus..

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3246563

Keluarga adalah satuan masyarakat yang terkecil, walaupun terkecil tapi keluarga sudah dapat menciptakan kebudayaan yang akan berdampak pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Judul budaya yang di rindukan saya pilih karena saya sangat menginginkan melihat budaya yang baik yang dibawa dari keluarga oleh seluruh anggota keluarga kedalam masyarakat luas, alangkah baikmya hal kecil seperti ini dapat membawa kehidupan berbudaya yang lebih baik di dalam dunia ini. Orang tua memberikan contoh yang baik, anak dapat mengimplementasikannya di luar lingkungan keluarga, dan akan menurunkannya kelak ke anak-anaknya nanti. Siklus budaya seperti ini memang sudah terjadi, namun sayang budaya yang dibawa anggota keluarga ke dalam masyarakat justru malah tidak baik dan mengakibatkan kehidupan yang semakin tidak kondusif dalam berkebudayaan. Tidak adalagi yang membuat anak-anak tertarik dengan kebudayaan dari keluarganya dan tidak adalagi keinginan orang tua untuk memperkenalkan dan mendidik mereka tentang berbudaya yang baik dan melestarikan kebudayaan orang tuanya. Orang tua pada jaman sekarang cenderung membiarkan anak-anak mereka belajar dan mengetahui hal baru dari dunia luar yang sama sekali tidak ada pembimbing yang baik.


Hal kecil seperti apa yang telah ditinggalkan keluarga sekarang untuk kebaikan kebudayaan mereka? Contoh hal kecil ini begitu penting dan sekarang sudah jarang ditemui keluarga yang masih tetap berkumpul pada saat makan pagi(sarapan) dan makan malam di meja makan rumah mereka. Padahal hal sekecil ini adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan keluarga mereka, saat berkumpul ini akan menjadi momentum yang sangat memberikan dampak menjadi kehangatan suatu keluarga dan kebersamaan keluarga. Walaupun keluarga tidak memiliki ruang makan dan meja makan, juga dengan makanan yang seadanya tapi makan bersama keluarga sangatlah berguna untuk membangun budaya yang baik dalam keluarga dan secara tidak langsung memberikan dampak yang baik ke kehidupan berbudaya dalam masyarakat luas. Perhatian dan dukungan orang tua sangatlah dibutuhkan bagi anak, saat berkumpullah orang tua dapat mengobrol dengan anak-anaknya. Keadaan yang santai dan bersama-sama menjadikan makan bersama adalah saat-saat yang cukup baik dan dapat dilakukan setiap hari. Budaya ini akan menjadikan kehidupan bangsa kita lebih baik..

Manusia, satu kata yang tak habis di artikan dengan berjuta-juta kata dan kalimat. Dalam aspek Biologi manusia digolongkan sebagai animalia dan dikatakan hewan yang paling pintar dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan alam kehidupan. Dalam aspek Rohani dan Budaya juga berbeda dengan mahluk bahkan dengan manusia lainnya, manusia adalah mahluk hidup satu-satunya yang memiliki kepercayaan pada Sang Pencipta baik dalam kepercayaan agama apapun namun banyak juga manusia yang memiliki kepercayaan lain pada Sang Pencipta ataupun para leluhur, masing-masing memiliki keyakinan dan cara tersendiri untuk menunaikan kepercayaannya tersebut. Aspek budaya sangat mempengaruhi kepercayaan dan cara menunaikan dari kepercayaan mereka, budaya lama atau para manusia yang masih mempertahanan kebudayaan yang sudah lama diturunkan oleh nenek moyang mereka biasanya memiliki cara yang berbeda dalam beribadah, apalagi dengan manusia-manusia yang mendiami kota-kota besar di dunia. Manusia-manusia yang berkumpul dalam suatu daerah di katakan masyarakat, masyrakat perkotaan inilah yang memiliki kebudayaan-kebudayaan baru dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tentu saja dalam kebudayaan ini juga memiliki sisi positif dan negatifnya.

Tapi apapun itu kita sebagai manusia sesungguhnya mengetahui nilai-nilai yang ada dalam kehidupan kita sebagai manusia individu dan manusia bermasyarakat, hanya saja banyak sekali yang membuat kita bergeser dari nilai-nilai yang kita pegang yang telah diwariskan para leluhur kita.


Saya sebagai individu yang menginginkan kehidupan yang lebih nyaman dan lebih baik, ingin sekali bersama-sama dapat mengerti dan berbagi akan kehakikatan manusia. Seperti pada awal saya katakan akan banyak kalimat yang bisa menjelaskan kata "Manusia" maka dari itu saya tidak akan membahas pengertian manusia secara teoritis yang bisa saya cari, namun saya hanya akan mengeluarkan apa yang saya pikirkan tentang manusia kini.


Saya sesungguhnya melihat sifat-sifat manusia yang semakin bergeser ke arah yang jauh dari sifat asli manusia seperti yang di katakan dalam literatur di sekolah, manusia dewasa ini sangat mementingkan diri sendri dan tidak berusaha memikirkan makna hidup mereka yang sesungguhnya tidak ada yang tahu di beri kesempatan berapa lama. Saya hanya bisa membayangkan sejak dahulu nenek moyang manusia sudah memiliki sifat ini, sifat yang dibawa dari nenek moyang kita yang dikatakan sejenis primata atau secara kasar kita bilang memang sungguh-sungguh kelompok hewan liar. Betapa tidak, dahulu dikatakan nenek moyang berburu, mencari daerah baru untuk bertahan hidup, dari cara yang baik sampai berkala menjadi cara yang buruk. Manusia yang semakin pintar dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, ternyata tidak menjamin memiliki kehidupan yang lebih baik dari nenek moyang manusia. Seharusnya dengan diberi kemampuan untuk menjadi mahluk yang semakin maju, manusia dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik juga untuk sesama. Namun apa yang kita lihat, begitu lebih semakin rusak kehidupan di dunia ini, keserakahan dan kemampuan yang semakin tinggi semakin membuat manusia menjadi mahluk yang semakin tidak terkendali. Sesungguhnya apa yang kita cari, apa tujuan dari yang kita lakukan, dan haruskah kita melakukan itu? Kenapa kita harus berusaha menjadi manusia yang lebih pintar dari yang lain, apakah kita sungguh-sungguh memikirkan itu untuk kepentingan manusia, mahluk lain dan alam kita ini? Ataukah hanya untuk kecurigaan pada manusia lainnya? Untuk mempertahankan kejayaan? Pernahkah kita bersyukur untuk kehidupan kita ini yang sesungguhnya dapat lebih baik bila kita tidak berpikir agar pekerjaan kita menjadi lebih santai, dapat menertawakan teman-teman lain dengan melecehkan, dan banyak alasan yang membuat manusia semakin menghancurkan kehidupannya sendiri. Renungkanlah agar manusia yaitu diri kita bisa menjadi manusia dengan nilai-nilai sesungguhnya yang telah disepakati sebagai mahluk yang paling mulia.